SwaraMediaKaltim.com – Fenomena surutnya debit air Sungai Mahakam akibat musim kemarau tidak lagi dipandang sekadar perubahan siklus alam biasa. Melalui sinergi kearifan lokal dan pemanfaatan momentum alam, aktivitas berburu emas tradisional di dasar sungai kini bertransformasi menjadi simpul utama penguat ekonomi rakyat kecil di Kabupaten Kutai Barat.
Berdasarkan pantauan langsung dan liputan eksklusif Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Barat, Alfian Nur, di sejumlah titik lokasi penambangan milik warga kampung pesisir, aktivitas berburu bulir-bulir emas ini menjadi penggerak roda ekonomi baru. Fenomena ini terbukti efektif mengurangi angka pengangguran lokal dan mendongkrak pendapatan harian warga secara signifikan.
Bagi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Kecamatan Long Iram, tradisi menambang emas secara turun-temurun ini terbukti bukan lagi sekadar upaya bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi. Kehadiran mesin katoq penyedot material sederhana yang dikelola secara mandiri justru mampu menghidupkan roda perekonomian desa/kampung yang selama ini lesu.
Dalam konfirmasi langsung di lapangan, saya menemui para pekerja tambang, tokoh adat, hingga petinggi kampung setempat. Mereka membenarkan bahwa surutnya Sungai Mahakam menghadirkan pundi-pundi rezeki yang sangat dinantikan, terutama bagi warga yang selama ini tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap.
Ini adalah potensi alam yang dimanfaatkan secara turun-temurun oleh warga saat air surut. Menggunakan alat tradisional penyedot air sederhana yang kerap disebut mesin katoq, warga mengolah material pasir di dasar dan pinggiran sungai untuk memisahkan butiran emas.
Potensi alam yang muncul saat musim kemarau ini memberikan ruang bagi warga kelas bawah, terutama mereka yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap untuk memperoleh penghasilan harian yang layak. Fenomena ini sekaligus menjadi jawaban atas tingginya angka pengangguran lokal di wilayah pedalaman.
Pemanfaatan kearifan lokal dalam mengolah potensi dasar sungai ini membuktikan betapa tangguh dan mandirinya ekonomi berbasis masyarakat pesisir. Tanpa harus meninggalkan kampung halaman, warga mampu mengoreksi ketimpangan ekonomi melalui kerja keras dan kebersamaan.
Kemampuan masyarakat dalam membaca momentum alam dan mengelolanya secara tradisional ini menegaskan bahwa Sungai Mahakam bukan sekadar urat nadi transportasi, melainkan benteng pertahanan ekonomi rakyat kecil di Bumi Tanaa Purai Ngeriman yang patut dijaga dan mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak.
Saya menilai aktivitas ini memberikan dampak instan pada kesejahteraan ekonomi keluarga masyarakat pesisir. Warga yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari kini memiliki sumber penghasilan mandiri tanpa harus merantau jauh dari kampung halaman.
Petinggi kampung dan tokoh adat setempat turut mengapresiasi fenomena alam ini sebagai anugerah yang patut disyukuri. Mereka menyoroti bagaimana kegiatan tambang tradisional ini mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal dari berbagai usia, sehingga angka pengangguran di kawasan pesisir Kecamatan Long Iram menurun drastis selama musim kemarau berlangsung.
Kenyataannya melalui sinergi kearifan lokal dan pemanfaatan momentum alam, fenomena berburu emas di dasar Sungai Mahakam ini tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi menjadi simpul penguat ekonomi rakyat kecil di Kutai Barat. (Part1/Alfian)

