Beranda » Menjemput Kemandirian Olahraga Kaltim Oleh Rusdiansyah Aras

Menjemput Kemandirian Olahraga Kaltim Oleh Rusdiansyah Aras

SwaraMediaKaltim.com – Kalimantan Timur hari ini sedang diuji. Penurunan kapasitas fiskal daerah akibat fluktuasi target pendapatan dan rasionalisasi anggaran bukan lagi sekadar isu di ruang rapat kedewanan. Ini adalah realitas yang memukul semua sektor, tidak terkecuali dunia olahraga.

Bagi KONI Kaltim, penurunan ini laksana badai di tengah persiapan kita merajut mimpi besar menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2028.

Ketergantungan akut pada Dana Hibah APBD yang selama ini menjadi “napas utama” pembinaan atlet, kini berada di titik nadir. Jika kita hanya bisa mengeluh, meratapi angka-angka anggaran yang menyusut, maka prestasi olahraga Kaltim dipastikan akan ikut terjun bebas.

Namun, sejarah mencatat bahwa mentalitas insan olahraga Kaltim adalah mentalitas petarung. Di tengah impitan fiskal ini, lahir sebuah momentum regulasi: Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) Nomor 8 Tahun 2026.

Bagi saya, Permenpora ini bukanlah beban tambahan. Ia adalah “kompas” sekaligus payung hukum yang memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman. Regulasi ini dengan tegas mengamanatkan restrukturisasi tata kelola, modernisasi kelembagaan, dan yang paling krusial: kemandirian pendanaan.

Memutus Rantai “Ketergantungan” Hibah

Sudah saatnya kita mengubah paradigma. KONI tidak boleh lagi menempatkan diri sebagai “peminta-minta” APBD yang pasrah pada belas kasihan ruang fiskal daerah. Permenpora No. 8/2026 membuka jalan bagi KONI untuk bertransformasi menjadi organisasi yang mandiri, profesional, dan akuntabel.

Kemandirian bukan berarti pemerintah lepas tangan, melainkan bagaimana KONI mampu menciptakan ekosistem industri olahraga (sports industry) dan membangun kemitraan strategis yang saling menguntungkan dengan sektor swasta. Kaltim adalah daerah yang kaya. Ratusan perusahaan multinasional bergerak mengeruk hasil bumi di sini. Sangat naif jika potensi sebesar itu tidak mampu kita konversikan menjadi bahan bakar prestasi atlet.

Formula 1 Persen: Mengetuk Nyali CSR Tambang

Solusi konkret dari kemandirian ini ada pada komitmen dan keberanian politik pemimpin daerah. Kita tahu, perputaran dana Corporate Social Responsibility (CSR) sektor pertambangan di Kaltim menembus angka Rp1 triliun per tahunnya.

Melalui catatan ini, saya menawarkan formula yang rasional: Cukup 1 persen saja.

Jika Gubernur Kaltim mengeluarkan kebijakan strategis untuk mengarahkan 1 persen saja dari total dana CSR tambang tersebut yakni sekitar Rp10 miliar per tahun khusus untuk pembinaan olahraga prestasi, maka masalah klasik “kehabisan bensin” di tubuh pengprov cabor akan selesai. Dana ini jauh lebih stabil, bebas dari birokrasi politik anggaran APBD yang berbelit, dan dapat dikelola secara transparan langsung dari perusahaan ke program pembinaan.

Tugas KONI Kaltim ke depan adalah memastikan pemanfaatan dana tersebut jatuh ke tangan yang tepat melalui skala prioritas yang rigid. Kita tidak bisa lagi membagi anggaran secara “rata air” atas dasar asas kasihan. Anggaran harus didistribusikan berbasis kinerja:

Cabor Andalan: Lumbung emas yang wajib dijaga fasilitas, nutrisi, dan jam terbang internasionalnya.

Cabor Unggulan: Potensi medali perak/perunggu yang siap diakselerasi menjadi emas.

Cabor Harapan & Pembinaan: Wadah regenerasi atlet muda pasca-Porprov.

Menata Tangga Menuju PON 2028

Kemandirian fiskal baru ini harus menjadi amunisi utama untuk menyongsong target besar di PON 2028. Kita harus memulainya dengan cetak biru (blueprint) yang presisi dan tidak boleh melompat-lompat.

Semua harus diawali secara bertahap:

Fase Porprov VIII di Paser: Menjadi kawah candradimuka untuk menyisir potensi riil di akar rumput.

Fase Babak Kualifikasi (BK) PON: Menjadi filter penentu untuk menguji kelayakan tanding.

Fase Peak Performance: Memadukan suplemen, mentalitas, dan sport science agar grafik performa atlet berada di titik tertinggi tepat saat mereka menginjakkan kaki di arena PON 2028.

Badai fiskal 2026 dan Permenpora No. 8/2026 adalah momentum blessing in disguise (berkah yang terselubung). Ini adalah saat di mana kita dipaksa tegak berdiri di atas kaki sendiri. Jika Gubernur, swasta, dan KONI mampu menyatukan saf dalam frekuensi yang sama, maka keterbatasan anggaran hari ini justru akan dicatat sejarah sebagai titik balik kebangkitan olahraga Kalimantan Timur yang mandiri dan disegani di pentas nasional.

Bumi Etam tidak kekurangan bakat, kita hanya sedang diuji untuk mengelola berkat. (rd)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!