SwaraMediaKaltim.com – Wakil Gubernur Kalimantan Timur Dr H Seno Aji menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm bersama PT DJB Botanicals Indonesia dalam rangka diskusi potensi hilirisasi tanaman Kedemba atau Kratom (Mitragyna speciosa) sebagai komoditas ekspor unggulan Kalimantan Timur. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Wakil Gubernur Kalimantan Timur, belum lama ini.
Hadir dalam audiensi Dr Islamudin Ahmad, Prof Rudianto Amirta, dan Baso Didik Hikmawan dari PT Borneo Riseta Naturafarm, serta Haris Wafa dan Dwi Lestari dari PT DJB Botanicals Indonesia.
Audiensi diawali dengan pemaparan oleh Dr Islamudin Ahmad, yang mengangkat tema “Kratom: Emas Hijau dari Bumi Kalimantan – Peta Jalan Transformasi Nilai Ekologis, Validasi Ilmiah, dan Blueprint Hilirisasi Industri”.
Dalam paparannya, Islamudin menjelaskan Kratom merupakan tumbuhan tropis dari famili Rubiaceae yang tersebar di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Filipina, dan Papua Nugini.
Di Kalimantan Timur sendiri, tanaman ini dikenal dengan sebutan lokal Kedemba, sementara Kalimantan Barat menyebut Purik atau Ketum, dan Kalimantan Tengah serta Kalimantan Selatan dikenal Kayu Sapat.
Dari sisi potensi ekonomi, presentasi menyoroti estimasi pendapatan per hektar per tahun yang sangat signifikan. Daun segar dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp80–Rp120 juta per hektar, sementara produk ekstrak berkadar tinggi berpotensi menghasilkan pendapatan hingga Rp2,3–Rp5,7 miliar per hektar per tahun.
Nilai ini terbuka melalui proses hilirisasi yang mengubah simplisia mentah menjadi serbuk presisi, ekstrak, hingga produk farmasi komersial siap ekspor.
“Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengolah daun Kratom mentah menjadi produk ekstrak terstandar, nilai ekonomi komoditas ini dapat meningkat hingga lebih dari seribu kali lipat. Ini bukan sekadar angka, tapi peluang nyata yang sudah didukung oleh riset ilmiah dan regulasi ekspor yang sah,” ujarnya.
Paparan dilanjutkan oleh Haris Wafa dari PT DJB Botanicals Indonesia yang menjelaskan sisi industri dan peluang pasar global Kratom. Ia menyampaikan Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan Kratom dunia, dengan permintaan utama berasal dari Amerika Serikat dan Eropa sebagai bahan baku industri herbal dan kebugaran, serta India dan Thailand untuk industri ekstraksi bahan alam.
Dalam paparannya, Haris Wafa memperkenalkan profil kedua perusahaan yang hadir. PT DJB Botanicals Indonesia, yang berdiri sejak 2019, merupakan pionir eksportir produsen Kratom di Kalimantan Timur dengan fasilitas produksi di Kawasan Industri L3 Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, sekaligus pemegang persetujuan ekspor Kratom dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Sementara itu, PT Borneo Riseta Naturafarm merupakan lembaga riset yang telah meneliti Kratom sejak 2019 dengan tim ahli lebih dari 20 orang dari lintas disiplin ilmu, yang fokus pada isolasi alkaloid dan standarisasi mutu.
“Kami memiliki kapasitas mesin grinder mill sebesar 1 ton per hari dan disk mill 8 ton per hari, didukung jaringan pasokan bahan baku yang tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam, Paser, serta sebagian wilayah Kalimantan Selatan,” jelasnya.
Sebagai penutup paparannya, Haris Wafa menyampaikan aspirasi untuk mewujudkan konsep East Borneo Botanicals Corridor, yakni kolaborasi regional lintas daerah di sisi timur Pulau Kalimantan guna mengoptimalkan potensi komoditas Kratom secara terintegrasi.
“Pemerintah Provinsi Kaltim diharapkan mendorong pemetaan potensi Kratom di wilayahnya, seperti dilakukan Kalimantan Utara. Diversifikasi produk tidak terbatas pada Kratom, melainkan komoditas botani endemik Kalimantan lainnya seperti Tahongai (Kleinhovia hospita), Nuciferine, Arecoline, dan Bawang Dayak,” ungkapnya.
Wagub Seno Aji menyambut positif inisiatif yang disampaikan para peneliti dan pelaku industri. Ia menegaskan akan segera ditindaklanjuti dengan pertemuan lanjutan yang akan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kehutanan, Tim Ahli Gubernur, serta lembaga dan instansi pemerintah terkait, guna membahas aspek regulasi dan langkah-langkah strategis pengembangan komoditas Kratom secara menyeluruh.
Seno Aji juga menegaskan kesiapan Pemprov Kaltim terlibat aktif dan memberikan dukungan pendanaan dalam upaya hilirisasi Kratom, sebagai bagian dari komitmen daerah dalam diversifikasi sumber pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal yang berkelanjutan.
“Nanti kita turun langsung ke lokasi fasilitas produksi dan laboratorium di L3 Tenggarong Seberang. Saya ingin melihat sendiri sejauh mana kesiapan industri ini. Pemprov Kaltim serius untuk terlibat dan mendukung hilirisasi Kratom sebagai komoditas unggulan daerah,” tegas Wagub Seno Aji.(aya)
Editor : Alfian
Publisher : Redaksi


