Beranda » Dampak El Nino Godzilla, Sungai Mahakam Ulu Surut Drastis, Jalur Navigasi Berubah Jadi Daratan Bebatuan

Dampak El Nino Godzilla, Sungai Mahakam Ulu Surut Drastis, Jalur Navigasi Berubah Jadi Daratan Bebatuan

SwaraMediaKaltim.com – Fenomena El Nino Godzilla yang melanda berbagai wilayah kembali menunjukkan dampaknya yang signifikan terhadap kondisi geografis dan ekosistem di Bumi Benua Etam, Provinsi Kalimantan Timur.

Salah satu pemandangan paling kontras terlihat di aliran Sungai Mahakam, khususnya di wilayah Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, Jumat (4/9/2026).

Akibat kemarau panjang yang dipicu oleh anomali iklim tersebut, debit air Sungai Mahakam diwilayah ini mengalami penyusutan drastis, mengubah lanskap perairan yang biasanya dalam menjadi hamparan daratan baru.

Penurunan permukaan air ini memunculkan fenomena pantai mengering atau yang kerap disebut warga setempat sebagai karangan atau hamparan dasar sungai yang timbul ke permukaan.

Sepanjang aliran sungai di Long Bagun, gugusan bebatuan karang dan endapan batu sungai yang biasanya terendam air kini tampak jelas membentang cukup panjang di pesisir Sungai Mahakam Ulu.

Lanskap yang sebelumnya menjadi jalur navigasi utama kapal-kapal penumpang maupun perahu ketinting kini berubah wujud menjadi daratan berbatu yang kering kerontang.

Bagi masyarakat Mahakam Ulu, Sungai Mahakam bukan sekadar pemandangan alam, melainkan urat nadi kehidupan. Kondisi kemarau ekstrem ini membawa tantangan tersendiri bagi aktivitas sehari-hari warga, terutama para pengemudi ketinting dan kapal longboat yang menjadi moda transportasi vital antarkecamatan hinga di ujung kecamatan perbatasan di Long Apari.

Dengan munculnya bebatuan karang yang tajam dan dangkalnya alur sungai, navigasi menjadi jauh lebih berisiko. Para pengemudi harus ekstra hati-hati dan memperlambat laju air demi menghindari hantaman batu yang dapat merusak baling-baling atau lambung kapal.

Selain sektor transportasi, surutnya air Sungai Mahakam juga berdampak pada sektor perikanan darat dan aktivitas mandi-cuci-kakus (MCK) warga yang masih bergantung langsung pada air sungai.

Sejumlah keramba apik milik pembudidaya ikan air tawar di tepi sungai mahakam turut terancam akibat kualitas air yang menyusut dan menurunnya debit oksigen terlarut.

Meski demikian, fenomena alam ini juga menarik perhatian tersendiri. Hamparan bebatuan karang yang tak pernah terlihat dalam kondisi normal kini seolah membuka tabir sejarah geologi dasar Sungai Mahakam.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi ini, mengimbau masyarakat pesisir sungai untuk waspada terhadap potensi krisis air bersih, serta mengantisipasi ancaman lanjutan seperti bahaya kebakaran hutan dan lahan yang kerap menyertai musim kemarau panjang. (Alfian)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!