Beranda » Tiga Suku Dayak Lestarikan Budaya Omin Atun Onam Adet di Mahakam Ulu

Tiga Suku Dayak Lestarikan Budaya Omin Atun Onam Adet di Mahakam Ulu

Caption: Pemukulan gendang oleh Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, SE, sebagai tanda Festival Omin Atun Onam Adet, resmi dimulai, Sabtu (6/6/2026).

Wabup Suhuk: Masa Depan Budaya Berada Ditangan Generasi Muda

SwaraMediaKaltim.com – Festival Budaya dan Lomba Tradisional Daerah adalah perayaan tahunan yang bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan kearifan lokal, seperti permainan rakyat, olahraga tradisional, serta kuliner khas daerah kepada masyarakat luas.

Pada Sabtu 6 Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), menggelar Festival Budaya Omin Atun Onam Adet, yang berlangsung di Kampung Long Bagun Ilir, Kecamatan Long Bagun. Festival ini berlangsung hingga 9 Juni mendatang, diikuti berbagai kampung dari sub-suku Dayak Aoheng, Seputan, dan Bukot.

Kegiatan ini menampilkan berbagai tradisi, ritual adat, hingga pertunjukan seni budaya warisan leluhur. Festival Omin Atun Onam Adet sendiri memiliki makna “membawa suasana permainan budaya” yang diwujudkan melalui berbagai perlombaan dan permainan tradisional masyarakat adat yang diikuti dari 10 kampung diwilayah tersebut.

Sejak awal acara, antusiasme masyarakat terlihat jelas. Berbagai kalangan hadir, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mereka berkumpul untuk menyaksikan beragam pertunjukan seni dan budaya yang ditampilkan oleh para peserta. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa budaya masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang menarik dan inklusif.

Kehadiran Wakil Bupati Mahulu Suhuk, SE di tengah festival menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap keberagaman budaya dan ekonomi kreatif masyarakat diwilayah ini. Dalam sambutannya, Suhuk menegaskan pentingnya peran generasi muda untuk terus mengenal, mencintai, dan menjaga kelestarian budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Festival budaya seperti ini berfungsi sebagai ruang ekspresi yang krusial untuk menanamkan cinta tradisi. Bagi generasi muda, festival yang memadukan kearifan lokal dengan sentuhan kreativitas modern paling efektif untuk menjaga warisan leluhur agar tetap relevan di zaman sekarang,” tutur Suhuk.

Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses yang berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap relevan di masa depan.

“Pelestarian budaya lokal merupakan fondasi identitas daerah yang harus berjalan beriringan dengan pembangunan. Selain itu festival ini dapat menggerakkan sektor UMKM masyarakat melalui penjualan atribut budaya dan kerajinan lokal,” jelas Suhuk.

Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, lanjut Suhuk, festival ini juga menjadi sarana edukasi budaya. Para peserta dan pengunjung diajak untuk memahami makna di balik tradisi yang ditampilkan, sehingga nilai-nilai budaya tidak hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian penting dari jati diri bangsa.

“Harapannya kegiatan festival ini dapat berjalan aman, meriah, dan semakin mempererat persatuan serta persaudaraan masyarakat Mahulu. Pesan saya sudah jelas, masa depan budaya berada di tangan generasi muda. Dengan semangat, kreativitas, dan kepedulian, tradisi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang seiring waktu,” pungkasnya. (adv-mhu/rahmad)

Editor : Alfian

Publisher : Redaksi

error: Content is protected !!