SwaraMediaKaltim.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Nanang Aspian Nur, menyatakan dukungan penuh terhadap wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Barat dalam merealisasikan pembangunan Tugu Khatulistiwa di Kecamatan Long Iram.
Kecamatan Long Iram yang memiliki nilai historis dan geografis istimewa dinilai sangat tepat menjadi lokasi pembangunan Tugu Khatulistiwa. Selama ini, potensi pariwisata berbasis kebudayaan lokal di wilayah hilir Kubar dinilai membutuhkan ikon penanda (landmark) yang kuat untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Wacana pembangunan ikon baru ini dinilai memiliki nilai strategis tinggi, mengingat Kecamatan Long Iram memegang peranan sejarah yang sangat penting sebagai “Kota Tua” di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.
Inisiatif tersebut dinilai sebagai langkah strategis tidak hanya dalam mempertegas posisi geografis Kutai Barat yang dilintasi garis khatulistiwa. Tetapi juga sebagai sarana penting dalam mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
“Long Iram memiliki jejak sejarah yang kuat dan nilai kultural yang luar biasa bagi Kutai Barat. Keberadaan Tugu Khatulistiwa di sana tidak hanya memicu ingatan kolektif sejarah daerah, tetapi juga memantapkan potensi pariwisata kita di peta nasional maupun internasional,” tegas Nanang kepada media ini, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Nanang, keberadaan Tugu Khatulistiwa nantinya dapat difungsikan sebagai pusat promosi terpadu. Tempat ini diproyeksikan menjadi titik singgah utama yang memperkenalkan berbagai potensi lokal, mulai dari kebudayaan, kerajinan tangan, hingga kuliner khas daerah kepada para pengunjung dan wisatawan.
“Kami di lembaga legislatif sangat mendukung wacana Pemkab Kubar ini. Kehadiran sarana promosi terpadu di kawasan Tugu Khatulistiwa diyakini menjadi pintu gerbang utama untuk mengenalkan identitas budaya Kutai Barat kepada masyarakat luas,” ujar Nanang Aspian Nur.
Proyek Multiyears APBD Kubar 2027–2029
Legislator dari Fraksi PAN Kubar ini mengatakan, pembangunan Tugu Khatulistiwa ini diperkirakan membutuhkan alokasi anggaran sedikitnya puluhan miliar. Rencananya, pembiayaan megaproyek ini akan diusulkan melalui skema Multiyears Contract (Tahun Jamak) dalam APBD Kutai Barat periode tahun 2027–2029.
Nanang menyakini bahwa investasi anggaran dalam jumlah tersebut sangat berdasar dan sebanding dengan multiplier effect (dampak berganda) yang akan dihasilkan bagi pembangunan dan perekonomian masyarakat Long Iram serta Kutai Barat pada umumnya.
Konsep Desain: Sentra Ekonomi Kreatif & Budaya Lokal
Salah satu poin penting yang ditegaskan dalam rencana perancangan fisik Tugu Khatulistiwa ini adalah integrasi antara ruang publik, budaya, dan pemberdayaan UMKM. Ilustari dalam desain grafis serta masterplan perencanaannya, kawasan tugu wajib dilengkapi dengan lapaq dagang (lapak UMKM) yang tertata rapi.
Nantinya sentra ekonomi ini difungsikan khusus untuk kuliner khas daerah, menjual makanan dan minuman tradisional. Kemudian ada juga lapaq menampilkan serta menjual kriya dan suvenir budaya autentik karya pengrajin lokal Kutai Barat.
Kata dia wacana Pemkab Kubar ini, diyakini dapat mendorong produk lokal ke kancah mancanegara. Sebab kehadiran sarana promosi terpadu di kawasan Tugu Khatulistiwa nanti, dapat menjadi pintu gerbang mengenalkan identitas budaya Kutai Barat.
“Yang nantinya kita ingin wisatawan yang datang tidak sekadar berfoto di tugu bersejarah, tetapi juga membawa pulang cita rasa dan karya seni asli Kutai Barat. Wacana ini adalah momentum emas untuk mengangkat produk lokal agar makin dikenal luas di luar daerah, bahkan menembus pasar mancanegara,” harapnya.
Harapan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal
Dengan hadirnya ikon baru ini, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Kecamatan Long Iram juga diprediksi akan menerima dampak positif. Sentra promosi yang terintegrasi di area tugu dapat dimanfaatkan para pelaku usaha lokal untuk memamerkan serta memasarkan produk unggulan daerah.
Nanang menambahkan bahwa pihak DPRD Kubar mendorong agar perencanaan pembangunan tugu ini digarap secara matang dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan tokoh adat setempat. Hal tersebut bertujuan agar desain serta konsep kawasan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.
“Kita berharap rencana ini tidak sekadar menjadi pembangunan fisik semata, melainkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar serta memperkuat rasa bangga warga terhadap kekayaan budaya Bumi Tanaa Purai Ngeriman,” pungkasnya. (vivie)
Editor : Alfian
Publisher : Redaksi

