SwaraMediaKaltim.com – Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud (Harum) blusukan ke wilayah utara melalui jalur Kaubun – Sangkulirang lewat penyeberangan feri GM di Kaubun, Kutai Timur.
Kondisinya sangat miris. Masyarakat harus antre berjam-jam hanya untuk bisa menyeberang. Padahal, di sana ada satu jembatan yang sudah dibangun sejak tahun 2014.
Gubernur Harum datang dengan tekanan lebih kuat. Mengingat keberadaannya yang sangat strategis, ia meminta agar Jembatan Nibung segera diselesaikan. Dan benar saja, setahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Seno Aji, Jembatan Nibung akhirnya rampung juga.
“Alhamdulillah, di bulan penuh berkah Ramadhan tahun ini kita akan resmikan Jembatan Nibung di Kutai Timur hari ini,” kata Gubernur Harum sesaat sebelum keberangkatan menuju Jembatan Nibung melalui jalur darat, Selasa 24 Februari 2026.
Seluruh pekerjaan jembatan sudah selesai 100%. Begitu juga dengan akses jalan pendekat dari sisi Kampung Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun maupun Kampung Pelawan Kecamatan Sangkulirang. Seluruhnya selesai 100%.
“Kami sangat senang, karena baru setahun kami menjabat, Jembatan Nibung akhirnya bisa kita selesaikan. Kalau saya tidak keras, mungkin belum tentu selesai juga jembatan ini,” bangga Gubernur Harum.
Jalan dan jembatan yang dulu hanya angan-angan, kini membentang nyata di depan mata. Jalur yang dulu memutar, melelahkan dan menguras biaya, berubah menjadi akses yang memangkas waktu tempuh hingga empat jam.
Jarak pun terpotong sekitar 140 kilometer. Jalur transportasi ikan, kelapa sawit dan penumpang akan lebih bergairah dengan kehadiran jembatan ini.
Menuju Biduk-Biduk, Kabupaten Berau tak lagi menjadi perjalanan setengah hari penuh keringat dan was-was.
Terkhusus bagi masyarakat Kadungan Jaya dan Pelawan, ini bukan sekadar jembatan penyambung. Ini urat nadi baru. Anak-anak bisa lebih cepat ke sekolah, hasil kebun lebih mudah dibawa ke pasar dan orang sakit tak lagi terjebak dalam perjalanan panjang yang menegangkan.
Di atas cor beton yang terhampar memanjang menyambung daratan Kadungan Jaya dan Pelawan, ada cerita tentang kesabaran, tentang doa yang tak putus dan tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya. Dua kampung yang dulu terpisah oleh sungai, kini benar-benar tersambung dan bersama itu, masa depan terasa menjadi semakin dekat. (adv/aya)
Editor : Alfian
Publisher : Redaksi
![]()


