SwaraMediaKaltim.com – Saat ini Kaltim fokus pada pencetakan sawah baru seluas 20.000 hektare, akan tetapi Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud (Harum) juga mendorong pengembangan perkebunan kakao dan kelapa dalam.
“Apalagi, kakao Kutai Timur, Berau dan Mahakam Ulu itu salah satu yang terbaik di Indonesia,” kata Gubernur Harum di Pendopo Lamin Etam, awal pekan tadi.
Menurut Gubernur, pengembangan kakao salah satunya bisa dilakukan di lahan perhutanan sosial yang dikelola kelompok petani dan masyarakat sekitar hutan.
“Pusat siap bantu kita untuk pengadaan bibit dan semacamnya,” ungkap Gubernur Rudy Mas’ud menyebut hasil pertemuannya dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Makassar, belum lama ini.
Sebab itu, orang nomor satu Kaltim itu lantas meminta Dinas Perkebunan Kaltim untuk segera berkoordinasi dengan dinas terkait di kabupaten-kabupaten yang potensial untuk pengembangan kakao tersebut.
Ia optimis, jika Kaltim mampu memproduksi kakao dalam jumlah besar, maka di masa depan akan terbuka peluang bagi investor untuk mengembangkan industri pengolahan di sini.
Selain akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pengembangan industri kakao juga akan membuka lapangan kerja yang signifikan, baik di lahan perkebunan maupun industri, termasuk pula di jalur distribusinya.
Selain kakao, potensi lain yang potensial dikembangkan menurut Gubernur Harum adalah kelapa dalam. Kelapa dalam potensial dikembangkan di pesisir Kalimantan Timur yang tersebar dari Berau hingga Paser.
Meski diakuinya, untuk kelapa dalam panen baru bisa dilakukan setelah 6-8 tahun. Untuk produksi yang lebih cepat bisa ditanam kelapa hibrida (genjah). Kelapa jenis ini sudah bisa dipanen antara usia 3-5 tahun.
“Saya dapat info dari Bu Sherly (Gubernur Maluku Utara), ekspor kelapa mereka bisa sampai Rp1,2 triliun. Saya minta segera koordinasi dengan dinas terkait di kabupaten kota, kita tanam kelapa. Saya sarankan di pesisir, karena kelapa perlu garam,” seru Gubernur.
Pengembangan tanaman-tanaman berkualitas ini di masa depan juga diharapkan dapat menjadi mesin ekonomi baru berkelanjutan, sekaligus perlahan mengikis ketergantungan Kaltim terhadap basis sumber daya alam tak terbarukan, seperti minyak dan gas, serta batu bara. (aya)
Editor : Alfian
Publisher : Redaksi
![]()


